Menuju Rumah

Di sebuah kota kecil di pinggir laut, tinggal seorang perempuan bernama Aluna. Ia bekerja di sebuah toko buku tua yang menghadap ke dermaga. Setiap sore, ia duduk di dekat jendela, membaca novel-novel romantis sambil mendengar debur ombak.

Suatu hari, seorang laki-laki bernama Raka datang ke toko itu. Ia bukan pembaca setia, hanya seorang arsitek yang sedang mencari ketenangan setelah proyeknya gagal. Ia mengambil sebuah novel karya Tere Liye, lalu berdiri lama seolah berharap menemukan jawaban di antara halaman-halamannya.

Aluna memperhatikannya diam-diam. Ada sesuatu di wajah Raka—lelah, tapi lembut.

“Buku itu tentang kehilangan dan pulang,” kata Aluna pelan.

Raka tersenyum tipis. “Mungkin saya memang sedang mencari jalan pulang.”

Sejak hari itu, Raka sering datang. Kadang mereka berbicara tentang buku, kadang tentang mimpi yang tertunda. Raka bercerita bagaimana ia dulu ingin membangun rumah kecil di tepi pantai—rumah sederhana, dengan jendela besar menghadap matahari terbit.

“Mimpi yang sederhana,” kata Aluna.

“Tapi sulit kalau sendirian,” jawab Raka.

Hari-hari berlalu, dan percakapan mereka berubah menjadi kebiasaan yang dirindukan. Raka mulai membantu memperbaiki rak buku yang lapuk. Aluna mulai menyeduhkan kopi setiap kali ia datang. Tanpa mereka sadari, perasaan tumbuh pelan seperti cahaya pagi.

Namun, kebahagiaan jarang datang tanpa ujian.

Suatu sore, Raka mendapat tawaran pekerjaan di kota besar. Kesempatan yang tak pernah ia dapat sebelumnya. Ia bimbang. Pergi berarti meninggalkan kota kecil itu—dan Aluna.

“Aku takut kalau pergi, semuanya berubah,” kata Raka di dermaga.

Aluna menatap laut yang berkilau jingga. “Cinta bukan tentang menahan. Kalau memang harus pergi, pergilah. Kalau kita ditakdirkan bersama, kamu akan menemukan jalan kembali.”

Raka pergi seminggu kemudian. Toko buku terasa lebih sepi dari biasanya. Aluna tetap duduk di dekat jendela, tapi kini tak ada lagi sosok yang berdiri lama di rak novel.

Bulan-bulan berlalu.

Hingga suatu pagi, ketika Aluna membuka pintu toko, ia melihat sebuah sketsa tergantung di gagang pintu. Gambar sebuah rumah kecil di tepi pantai—dengan jendela besar menghadap matahari terbit.

Di bawahnya tertulis:

“Rumah ini tak akan lengkap tanpa kamu.”

Aluna menoleh, dan di seberang jalan, Raka berdiri dengan senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu.

“Aku sudah menemukan jalan pulang,” katanya.

Dan untuk pertama kalinya, Aluna sadar—cinta bukan hanya tentang pertemuan atau perpisahan. Cinta adalah keberanian untuk pergi, dan keyakinan untuk kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Kita

IMPIAN HATI "The Series"