IMPIAN HATI "The Series"
Bab 5 – Cahaya Pertama
Dua tahun berlalu.
Suatu pagi, email masuk ke ponselnya. Sebuah penerbit kecil tertarik menerbitkan kumpulan cerpennya.
Tangannya gemetar. Ia membaca ulang email itu berkali-kali, memastikan ia tidak bermimpi.
Buku pertamanya terbit dalam jumlah terbatas. Tak langsung laris. Tak membuatnya kaya. Namun ketika seseorang mengirim pesan dan berkata, “Tulisanmu membuatku merasa tidak sendirian,” Aira tahu—impian hatinya mulai menemukan makna.
Ia tak lagi menulis demi pengakuan. Ia menulis demi jiwa-jiwa yang mungkin sedang retak seperti dirinya dulu.
Komentar
Posting Komentar